Perjuangan Pengrajin Suling Subang Menembus Pasar Digital
Kembali ke Berita

Perjuangan Pengrajin Suling Subang Menembus Pasar Digital

Detail Berita

Penyunting
ADMIN
Waktu Posting
20 Oct 2026 08:07
Kategori
Mahasiswa
Perjuangan Pengrajin Suling Subang Menembus Pasar Digital

SUBANG, 20 Oktober 2026. Dari sebatang bambu tamiang, lahir alunan nada yang menjadi bagian dari kekayaan musik Sunda. Di Desa Tanjungsiang, Kecamatan Tanjungsiang, Kabupaten Subang, seorang pengrajin bernama Nana telah menekuni pembuatan suling bambu sejak 1998. Setelah lebih dari dua dekade mengembangkan usahanya, ia kini menghadapi tantangan baru, mempertahankan pasar dan memperluas pemasaran di tengah perubahan pola perdagangan digital.

Kisah tersebut menjadi perhatian Kelompok 15 Desa Tanjungsiang dalam kegiatan Program Penguatan Mahasiswa Berbasis Masyarakat (P2MB) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Dalam kunjungan pada 16 Oktober 2026, mahasiswa Bersama DPL, menelusuri proses pembuatan suling bambu sekaligus menggali potensi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berperan dalam menjaga keberlanjutan kerajinan alat musik tradisional Sunda.

Suling Sunda bukan sekadar alat musik tiup berbahan bambu. Instrumen ini memiliki tempat dalam berbagai tradisi musik Sunda, termasuk tembang Sunda Cianjuran dan gamelan degung. Alunannya berpadu dengan instrumen lain, seperti kacapi, untuk menghadirkan karakter musikal yang khas. Bambu tamiang juga dikenal sebagai salah satu bahan tradisional pembuatan suling Sunda.

Karena itu, keberadaan pengrajin suling memiliki arti lebih luas daripada kegiatan produksi barang. Keterampilan memilih bahan, mengolah bambu, membentuk instrumen, hingga menghasilkan kualitas bunyi merupakan bagian dari pengetahuan kerajinan yang perlu terus diwariskan. Hal tersebut dituturkan oleh Dosen Pembimbing Lapangan, Drs. Dadan Djuanda, M.Pd, kepada Nana sebagai pengrajin.

“Pa Nana ini selain membuat suling sebagai upaya melestarikan, saya berharap dia bisa mengajarkan cara membuat suling kepada para murid, sehingga selain bisa meniupnya, para murid juga bisa membuatnya, Semoga sekolah di Tanjungsiang ada yang berminat, misalnya dalam kegiatan ekstrakurikuler,” tutur Dadan berharap.

Menurut Dadan, mengajarkan bisa menggunaan alat tiup suling kepada murid mungkin masih ada yang peduli, guru kesenian. Namun jika suatu saat tidak ada lagi yang bisa membuatnya, maka warisan tradisional itu akan musna dengan sendirinya.

Perjalanan Nana dalam menekuni kerajinan ini tidak berlangsung seketika. Ketertarikannya terhadap seni tumbuh sejak berusia 14 tahun ketika ia aktif sebagai pelaku seni. Saat pertama kali merintis usaha, ia bahkan belum memahami teknik pembuatan suling maupun jenis bambu yang tepat.

Pada masa awal usaha, Nana mengandalkan peralatan sederhana dan mengerjakan hampir seluruh proses secara manual. Produksinya ketika itu sekitar 5–10 suling per hari. Pada periode awal perintisan, jumlah produksinya dalam satu minggu berkisar 20–50 buah.

Seiring perkembangan usaha, penggunaan peralatan seperti mesin bor membantu mempercepat proses pengerjaan. Dengan melibatkan dua orang pekerja, kapasitas produksi untuk memenuhi pesanan sekolah kini dapat mencapai sekitar 50 lebih suling sehari, bergantung pada jumlah pesanan dan proses pengerjaan.

Bahan utama yang digunakan adalah bambu tamiang, yang dipilih karena bentuknya relatif panjang dan berdiameter kecil. Sebelum diolah, bambu diseleksi berdasarkan kualitasnya, dijemur, direndam, dicuci, lalu dikeringkan kembali. Setelah itu, bambu dihaluskan dan dibentuk menjadi suling sesuai kebutuhan.

Rangkaian proses tersebut memperlihatkan bahwa pembuatan suling tidak hanya mengandalkan ketersediaan bahan baku, tetapi juga memerlukan ketelitian dan keterampilan agar instrumen yang dihasilkan sesuai dengan kebutuhan pemakainya.

Suling buatan Nana dipasarkan untuk mendukung pembelajaran seni di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, dan sekolah menengah atas, serta untuk kebutuhan pertunjukan. Produk untuk pembelajaran dan pertunjukan memiliki perbedaan kualitas serta standar kebutuhan, sehingga harganya pun dapat berbeda.

Untuk suling yang digunakan dalam pertunjukan, harga yang tercantum dalam naskah usaha berkisar Rp35.000–Rp50.000 per buah. Pembelian dalam bentuk satu set dapat memberikan harga yang lebih ekonomis.

Pemasaran dilakukan melalui penjualan langsung ke sekolah-sekolah maupun melalui marketplace. Produk dipasarkan secara daring melalui toko Razwa Shop dan telah menjangkau pembeli di luar Pulau Jawa, termasuk Papua dan Aceh.

Jangkauan tersebut menunjukkan adanya peluang bagi kerajinan lokal untuk menembus pasar yang lebih luas melalui perdagangan digital. Di sisi lain, keberhasilan memperluas pasar memerlukan dukungan informasi produk yang jelas, komunikasi dengan calon pembeli, serta kemudahan transaksi dan pemesanan.

Salah satu kendala yang disampaikan Nana adalah keterbatasan perangkat komunikasi untuk mendukung pemasaran daring. Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa kemampuan menghasilkan produk berkualitas perlu diimbangi dengan kemampuan memasarkan produk secara efektif.

“Saya berharap usaha ini bisa lebih maju lagi seperti sebelum pandemi COVID-19, terima kasih juga kepada para mahasiswa P2MB UPI Desa Tanjungsiang, yang telah turut membantu dalam upaya bangkit Kembali pemasaran suling ini dalam dighitalisasi pemasaran, ” ungkap Nana.

Penguatan pemasaran digital dapat menjadi salah satu langkah untuk mendukung harapan tersebut. Dokumentasi proses pembuatan suling, foto produk yang informatif, katalog harga, informasi ukuran dan jenis suling, serta saluran komunikasi pemesanan yang mudah diakses berpotensi membantu calon pembeli mengenal produk dan melakukan transaksi.

Bagi mahasiswa P2MB, kunjungan ini membuka ruang untuk melihat hubungan antara pelestarian budaya dan pengembangan ekonomi masyarakat. Kerajinan suling bambu memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya karena produknya berkaitan dengan keberlangsungan alat musik tradisional Sunda.

Upaya mengembangkan usaha tersebut diharapkan tidak berhenti pada peningkatan penjualan. Dukungan terhadap pengrajin juga dapat menjadi bagian dari upaya menjaga keterampilan tradisional agar tetap dikenal, digunakan, dan dipelajari oleh generasi berikutnya.