Oleh: Nurdinah Hanifah
Ketika bumi kembali bersuara, apakah kita masih bersedia mendengarkan?
Pertanyaan itu terasa kembali relevan ketika Gunung Anak Krakatau menunjukkan aktivitas vulkaniknya pada September 2026. Dentuman dan suara gemuruh dari gunung api di tengah Selat Sunda bukan sekadar suara alam. Ia seperti mengetuk kembali pintu ingatan manusia mengingatkan bahwa di balik keindahan alam Indonesia, terdapat kekuatan alam yang tidak selalu dapat diprediksi dan dikendalikan.
Bagi sebagian orang, erupsi Anak Krakatau mungkin hanya menjadi berita yang muncul di layar gawai selama beberapa hari. Namun bagi masyarakat yang hidup di kawasan rawan bencana, suara itu memiliki makna yang jauh lebih dalam. Ia adalah pengingat bahwa kehidupan manusia selalu berjalan berdampingan dengan risiko.
Gunung Anak Krakatau berada di wilayah yang memiliki sejarah panjang kebencanaan. Pada September 2026, aktivitas erupsi kembali meningkat dan pemerintah melalui lembaga terkait mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada serta mematuhi zona bahaya. Peristiwa ini seharusnya tidak hanya mengundang rasa ingin tahu tentang seberapa besar gunung tersebut meletus, tetapi juga menghadirkan pertanyaan yang lebih penting:
Sudahkah kita belajar dari sejarah? Pertanyaan itu membawa kita kembali kepada Krakatau tahun 1883.
Ketika Sejarah Berbicara
Letusan Krakatau tahun 1883 merupakan salah satu peristiwa vulkanik paling dahsyat yang tercatat dalam sejarah modern. Letusan tersebut tidak hanya mengubah bentang alam kawasan Selat Sunda, tetapi juga memicu tsunami yang menimbulkan korban dan kehancuran besar di wilayah pesisir.
Lebih dari satu abad kemudian, sejarah seakan kembali memberikan pelajaran melalui peristiwa tsunami 22 Desember 2018 yang berkaitan dengan aktivitas Anak Krakatau. Peristiwa tersebut memperlihatkan bahwa bahaya gunung api tidak selalu berhenti pada erupsi. Perubahan tubuh gunung, longsoran material, dan proses lain dapat menciptakan bahaya sekunder yang dampaknya menjangkau masyarakat jauh dari sumber erupsi.
Di sinilah sejarah menjadi penting. Sejarah bencana bukan sekadar catatan mengenai kapan sebuah bencana terjadi dan berapa banyak korban yang ditimbulkannya. Sejarah merupakan rekaman pengalaman manusia dalam menghadapi risiko. Di dalamnya terdapat pengetahuan, kesalahan, keberhasilan, dan pelajaran yang seharusnya digunakan untuk mempersiapkan masa depan.
Namun, sebuah sejarah hanya akan memiliki makna apabila manusia bersedia belajar darinya. Kita tidak dapat mengubah apa yang terjadi pada 1883. Kita juga tidak dapat menghapus tragedi 2018. Tetapi kita dapat menggunakan pengalaman tersebut untuk memperbaiki cara kita memahami dan menghadapi risiko hari ini. Dengan kata lain, masa lalu tidak dapat diselamatkan, tetapi pelajarannya dapat menyelamatkan masa depan.
Mitigasi: Bukan Menunggu Bencana Datang
Bencana sering kali baru menjadi perhatian ketika peristiwa telah terjadi. Ketika air telah menggenangi rumah, ketika abu vulkanik telah memenuhi udara, atau ketika sirene peringatan telah berbunyi, manusia baru menyadari betapa pentingnya kesiapsiagaan. Padahal, inti dari mitigasi justru berada pada tindakan sebelum bencana terjadi.
Mitigasi bukan upaya untuk menghentikan gunung api agar tidak meletus. Manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan proses alam tersebut. Yang dapat dilakukan adalah mengurangi risiko dan dampak yang mungkin ditimbulkannya.
Pemantauan gunung api, pemetaan kawasan rawan bencana, sistem peringatan dini, tata ruang, jalur evakuasi, edukasi kebencanaan, hingga kesiapan masyarakat merupakan bagian dari upaya tersebut.
Namun, mitigasi tidak akan berjalan optimal jika hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Mitigasi harus tumbuh menjadi budaya masyarakat.
Masyarakat perlu mengetahui sumber informasi yang dapat dipercaya. Masyarakat perlu memahami zona bahaya dan mengikuti arahan petugas. Keluarga perlu memiliki rencana ketika harus melakukan evakuasi. Sekolah perlu memiliki prosedur keselamatan dan melakukan simulasi secara berkala.
Bahkan tindakan yang tampak sederhana—tidak mendekati kawasan berbahaya hanya untuk mengambil gambar, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, dan tidak mengabaikan peringatan resmi—merupakan bagian dari mitigasi.
Karena itu, pertanyaan tentang mitigasi sesungguhnya bukan hanya: “Apa yang harus kita lakukan ketika bencana terjadi?”
Tetapi juga: “Apa yang sudah kita lakukan sebelum bencana terjadi?”
Dari Gunung Api ke Kehidupan Sehari-hari
Kesadaran terhadap bencana tidak seharusnya berhenti di kawasan gunung api. Ia perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari.
Kesiapsiagaan dapat dimulai dari rumah. Keluarga dapat mengetahui titik kumpul, mengenali jalur evakuasi, menyimpan dokumen penting dengan aman, menyediakan perlengkapan darurat, serta membiasakan anggota keluarga mendiskusikan apa yang harus dilakukan dalam kondisi darurat.
Di sekolah, mitigasi dapat menjadi bagian dari proses pendidikan. Anak-anak tidak hanya diajarkan untuk menghafal jenis-jenis bencana, tetapi juga diajak memahami lingkungan, mengenali risiko, membaca informasi, mengambil keputusan, bekerja sama, dan membantu orang lain.
Pendidikan mitigasi dengan demikian bukan sekadar pendidikan tentang bencana.
Ia adalah pendidikan tentang kehidupan.
Anak yang belajar menjaga lingkungan sedang belajar mengurangi risiko. Anak yang belajar tidak membuang sampah sembarangan sedang belajar menjaga keberlanjutan lingkungan. Anak yang mengetahui jalur evakuasi sedang belajar menjaga keselamatan. Anak yang mampu membedakan informasi benar dan hoaks sedang belajar mengambil keputusan dalam situasi penuh ketidakpastian.
Hal-hal kecil tersebut pada akhirnya membentuk sesuatu yang jauh lebih besar: ketangguhan.
Ketangguhan sebagai Jalan Menuju Pembangunan Berkelanjutan
Di sinilah mitigasi bencana memiliki hubungan yang erat dengan Sustainable Development Goals (SDGs).
Pembangunan berkelanjutan tidak hanya berbicara tentang pertumbuhan ekonomi atau pembangunan infrastruktur. Pembangunan juga harus memastikan bahwa manusia dapat hidup dalam lingkungan yang aman, sehat, inklusif, dan mampu menghadapi berbagai risiko.
Masyarakat yang terus-menerus kehilangan rumah, sumber penghidupan, fasilitas kesehatan, dan akses pendidikan akibat bencana akan mengalami hambatan dalam mencapai kesejahteraan. Karena itu, pengurangan risiko bencana merupakan bagian penting dari pembangunan berkelanjutan.
Mitigasi memiliki keterkaitan dengan berbagai tujuan SDGs.
Perlindungan kesehatan masyarakat berkaitan dengan SDG 3: Good Health and Well-being. Pendidikan kebencanaan mendukung SDG 4: Quality Education. Upaya membangun permukiman yang aman dan tangguh berkaitan dengan SDG 11: Sustainable Cities and Communities. Sementara peningkatan ketangguhan terhadap risiko lingkungan dan bencana memiliki hubungan erat dengan SDG 13: Climate Action.
Bahkan perlindungan kawasan pesisir dan ekosistem laut memiliki keterkaitan dengan SDG 14: Life Below Water.
Hubungan tersebut memperlihatkan bahwa mitigasi bencana bukan agenda yang berdiri sendiri.
Mitigasi adalah bagian dari cara kita membangun kehidupan yang berkelanjutan.
Ketika sebuah keluarga menyiapkan tas siaga, ketika sekolah melakukan simulasi evakuasi, ketika masyarakat mematuhi zona bahaya, dan ketika pemerintah membangun sistem peringatan dini, sebenarnya kita sedang membangun fondasi masyarakat yang lebih tangguh.
Dan masyarakat yang tangguh adalah salah satu prasyarat bagi pembangunan yang berkelanjutan.
Jangan Biarkan Sejarah Berulang Tanpa Pelajaran
Anak Krakatau hari ini seharusnya tidak membuat kita hanya takut.
Ia seharusnya membuat kita lebih sadar.
Takut mungkin membuat seseorang menjauh untuk sementara. Tetapi kesadaran membuat seseorang belajar dan mempersiapkan diri untuk jangka panjang.
Kita tidak dapat menghentikan gunung api untuk meletus. Kita tidak dapat mengubah sejarah Krakatau 1883. Kita juga tidak dapat menghapus tragedi tsunami 2018. Namun, kita memiliki pilihan untuk menentukan apa yang akan kita lakukan setelah mempelajari semuanya.
Apakah kita akan kembali melupakan ketika berita tentang erupsi berhenti menjadi perhatian?
Ataukah kita akan menjadikan momentum ini sebagai kesempatan untuk memperkuat budaya mitigasi?
Pilihan tersebut berada di tangan kita.
Sebab sesungguhnya, bencana alam tidak selalu dapat dicegah, tetapi risiko dan dampaknya dapat dikurangi.
Dan upaya mengurangi risiko tidak selalu dimulai dengan teknologi yang rumit. Ia dapat dimulai dengan sesuatu yang sangat sederhana: pengetahuan, kesadaran, kepedulian, dan kemauan untuk bertindak.
Krakatau telah mengajarkan manusia tentang kedahsyatan alam. Sejarah telah memberikan kita catatan. Ilmu pengetahuan telah memberikan kita pemahaman. Teknologi telah memberikan kita alat untuk memantau dan memperingatkan.
Yang masih dibutuhkan adalah manusia yang mau belajar dan bertindak.
Penutup: Ketika Sejarah Menjadi Bekal Masa Depan
Pada akhirnya, Anak Krakatau bukan hanya tentang sebuah gunung api yang berada di tengah Selat Sunda. Ia adalah simbol tentang hubungan manusia dengan alam—tentang keindahan sekaligus kerentanan, tentang masa lalu sekaligus masa depan.
Setiap erupsi membawa pesan. Setiap bencana meninggalkan pelajaran. Dan setiap generasi memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa pelajaran tersebut tidak hilang bersama berlalunya waktu.
Kita mungkin tidak dapat menentukan kapan alam akan kembali menunjukkan kekuatannya. Tetapi kita dapat menentukan seberapa siap kita ketika saat itu tiba.
Karena itu, belajar dari Krakatau berarti belajar untuk tidak sekadar mengingat bencana, tetapi memahami risikonya. Belajar mitigasi berarti tidak sekadar mengetahui apa yang harus dilakukan, tetapi membangun kebiasaan untuk melakukannya. Dan membangun kehidupan berkelanjutan berarti memastikan bahwa ketangguhan yang kita bangun hari ini menjadi bekal bagi generasi yang akan datang.
Krakatau mengajarkan kita bahwa alam memiliki sejarah, manusia memiliki pengalaman, dan masa depan membutuhkan kesiapsiagaan. Jangan biarkan bencana hanya menjadi kenangan; jadikan ia pengetahuan, pengetahuan menjadi tindakan, dan tindakan menjadi warisan bagi generasi yang akan datang.








