Perlu diakui bahwa keluarga, masyarakat bahkan sekolah membiasakan anak-anak kita untuk selalu menang, juara, menjadi nomor satu. Best of the best. Persaingan sangat ketat. Dalam mindset anak-anak kita senantiasa dibenamkan sugesti jika tidak menjadi juara, akan jadi apa? Manusia gagal?
Dampaknya, anak-anak, dan mungkin termasuk kita, tidak siap kalah. Tidak menerima dengan lapang dada kekalahan. Terlebih default system kita sebagai manusia, memiliki fitrah (naluri) al gharizah al baqa. Naluri mempertahankan diri. Siapa yang tidak senang, happy, feel pleasure saat namanya di sebut di panggung kejuaraan sebagai pemenang lomba. Siapa yang tidak melayang-layang, saat nama dan fotonya terpampang dalam flyer ucapan selamat atas prestasi yang ditorehkan. Kita bak tokoh super hero avengers yang menyelamatkan bumi dari huru-hara dunia. Namun, bagaimana jika kita selalu kalah? Tidak pernah berada di jajaran daftar top ten. Tidak pernah juara kelas? Apakah kita siap mental menerima itu? Apakah anak-anak kita menjadi depresi? gampang marah? over thinking? atau masalah kesehatan mental lainnya.
Di awali di keluarga, sebagai support system
pendidikan mikro yang berinteraksi langsung dengan anak saat ia berada di usia emasnya. Orang tua sebaiknya memahamkan kepada anaknya bahwa dunia ini, sebagaimana Allah Swt gambarkan dalam banyak surat, permainan dan senda gurau belaka. Masalah datang dan pergi sebagai episode hidup. Yang semua itu merupakan rangkaian pelajaran. Orang tua perlu mendefinisikan dengan jelas apa itu sukses. Meninggal dalam keadaan husnul khatimah (akhir yang baik) merupakan kesuksesan hakiki.
Perlu dipahamkan pada mindset anak bahwa “kalah” secara kontekstual bukanlah gagal, dan “menang” bukanlah sukses, di lihat dari terminal akhir gagal dan sukses. Dunia tidak berakhir hanya karena satu kali kalah atau satu kali menang. Ia sesungguhnya wahana pembelajaran. Manusia harus mengalami kekalahan agar ia dapat menyikapinya dengan bijak. Banyak pelajaran (moral lesson) yang terserak dalam peristiwa kalah itu. Begitu pun dengan menang. Tidak tinggi hati, sombong, angkuh atau puas saat kemenangan menyapa.
Dalam perspektif yang lebih luas, khususnya konsep tawakal, selama masih hidup, “kalah” dan “menang”, “baik” dan “buruk” hanyalah pandangan selera manusia, yang senang dengan menang dan euforia dengan peristiwa baik menurut dirinya. Tetapi apakah itu yang diinginkan Allah Swt Sang Pencipta.
Allah Swt berfirman, “Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu; dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).
Secara bijak orang tua seharusnya tidak banyak menuntut anaknya untuk selalu menang, yang berujung pada kompetisi tidak sehat. Apalagi anak tidak dibimbing dengan standar kebenaran halal dan haram. Buat apa anak menang dengan cara-cara yang haram. Bukankah tujuan (menang) tidak menghalalkan segala cara? Dan bisa jadi, para pemenang kehidupan dunia akhirnya menjadi pecundang kehidupan akhirat? gara-gara ia tidak mau kalah dalam persaingan dunia yang sejatinya hanya permainan dan senda gurau yang menyesatkan. Naudzubillah min dzalik.








