Dari Kebiasaan Kecil Menuju Ketangguhan: Mitigasi Bencana dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Mendukung
Kembali ke Berita

Dari Kebiasaan Kecil Menuju Ketangguhan: Mitigasi Bencana dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Mendukung

Detail Berita

Penyunting
ADMIN
Waktu Posting
07 Sep 2026 09:54
Kategori
Umum
Dari Kebiasaan Kecil Menuju Ketangguhan: Mitigasi Bencana dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Mendukung

Oleh: Nurdinah Hanifah

Ada yang berubah dari cara bencana hadir dalam hidup kita. Dulu bencana terasa sebagai peristiwa yang jauh  sesuatu yang dilihat di layar televisi, terjadi di daerah lain, menimpa orang lain. Kini bencana masuk ke ruang keseharian: gang permukiman yang tergenang setiap musim hujan, tebing di belakang sekolah yang retak, saluran air di depan rumah yang tersumbat, udara yang makin panas dan tidak menentu. Indonesia memang berdiri di atas pertemuan tiga lempeng tektonik dan menjadi bagian dari Cincin Api Pasifik, tetapi yang paling sering tercatat dalam data kebencanaan nasional justru bukan gempa atau letusan gunung, melainkan bencana hidrometeorologis  banjir, tanah longsor, cuaca ekstrem, dan kekeringan. Bencana jenis ini punya ciri khas: ia tumbuh perlahan dari cara manusia memperlakukan lingkungannya.
Namun di tengah kedekatan itu, pemahaman masyarakat tentang mitigasi justru sering menyempit. Mitigasi kerap dibayangkan sebagai tindakan yang dilakukan menjelang bencana: sirene yang berbunyi, simulasi evakuasi yang digelar setahun sekali, tas siaga yang disiapkan setelah muncul peringatan dini. Padahal, sebagian besar dari itu adalah kesiapsiagaan  respons terhadap ancaman yang sudah di depan mata. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mendefinisikan mitigasi secara lebih luas, yaitu serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun melalui penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman. Kata kuncinya adalah mengurangi risiko, dan itu pekerjaan jangka panjang, bukan pekerjaan semalam.
Di sinilah letak gagasan utama esai ini. Risiko bencana lazim dipahami sebagai hasil interaksi antara bahaya, kerentanan, dan kapasitas. Manusia hampir tidak punya kuasa atas bahaya: kita tidak bisa memerintahkan lempeng bumi untuk diam atau menyuruh hujan turun lebih sopan. Tetapi kerentanan dan kapasitas sepenuhnya berada dalam jangkauan kita  dan keduanya tidak dibentuk oleh satu keputusan besar, melainkan oleh ribuan keputusan kecil yang diulang setiap hari. Sampah yang dibuang ke sungai atau ke tempatnya, air yang dibiarkan mengalir percuma atau dihemat, pohon yang ditebang atau dibiarkan tumbuh, jalur keluar rumah yang dikenali atau diabaikan. Mitigasi, dengan kata lain, tidak harus berupa program besar bernilai miliaran rupiah. Ia bisa dimulai dari kebiasaan.
Kebiasaan-kebiasaan itu ternyata bermuara pada agenda yang lebih besar. Bukan kebetulan bahwa Kerangka Kerja Sendai untuk Pengurangan Risiko Bencana dan Agenda 2030 untuk Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) lahir pada tahun yang sama, 2015, dan saling merujuk satu sama lain. Logikanya sederhana: satu bencana besar mampu menghapus capaian pembangunan yang dibangun bertahun-tahun. Sekolah yang rusak menghentikan pendidikan, sanitasi yang tercemar melahirkan penyakit, keluarga yang kehilangan rumah jatuh kembali ke bawah garis kemiskinan. Membangun ketangguhan, karena itu, bukan agenda terpisah dari pembangunan berkelanjutan  ia adalah syarat agar pembangunan itu tidak sia-sia.
 

Mitigasi sebagai Bagian dari Kehidupan Sehari-hari
Mengenali risiko lingkungan sekitar. Langkah pertama mitigasi tidak menuntut biaya sama sekali, hanya perhatian. Setiap rumah berdiri di atas konteks geografis tertentu: dekat sungai atau tidak, di bawah tebing atau di dataran, di kawasan padat yang sulit dilalui kendaraan pemadam atau di permukiman yang lapang. Pertanyaan sederhana seperti “ancaman apa yang paling mungkin terjadi di tempat saya tinggal?” jarang diajukan, padahal jawabannya menentukan bentuk kesiapan yang relevan. Keluarga yang tinggal di bantaran sungai perlu kepekaan terhadap curah hujan di hulu; keluarga di lereng perlu mengenali tanda-tanda pergerakan tanah seperti retakan baru, tiang listrik yang miring, atau mata air yang tiba-tiba keruh. Kepekaan semacam ini adalah bentuk paling dasar dari literasi risiko.
Menjaga kebersihan dan mengelola sampah. Sulit menemukan contoh yang lebih jelas tentang bagaimana kebiasaan harian berubah menjadi bencana kolektif. Sampah yang dibuang sembarangan tidak berhenti sebagai masalah estetika; ia menyumbat drainase, mempersempit alur sungai, dan mengubah hujan lebat yang seharusnya lewat begitu saja menjadi banjir yang merendam permukiman. Memilah sampah organik dan anorganik, mengurangi kemasan sekali pakai, membuat lubang biopori atau kompos di halaman, dan ikut kerja bakti membersihkan saluran air adalah tindakan mitigasi struktural dalam skala rumah tangga. Efeknya kecil jika dilakukan seorang diri, tetapi kapasitas drainase sebuah kota sesungguhnya adalah akumulasi dari perilaku ribuan rumah tangga di sepanjang alirannya.
Menghemat air dan energi. Kekeringan sering dianggap bencana yang datang sendiri, padahal ia juga hasil dari pola konsumsi. Pengambilan air tanah yang berlebihan menurunkan muka air tanah dan, di kota-kota pesisir, mempercepat penurunan permukaan tanah yang membuat banjir rob semakin parah. Menutup keran saat menyikat gigi, memperbaiki pipa bocor, menampung air hujan, dan menggunakan air bekas cucian untuk menyiram tanaman adalah kebiasaan yang tampak sepele tetapi berkontribusi pada keseimbangan siklus air setempat. Hal yang sama berlaku untuk energi: setiap penghematan listrik menurunkan emisi yang, dalam skala global, memperparah cuaca ekstrem yang kemudian kembali ke halaman rumah kita sendiri.
Menjaga ruang terbuka dan lingkungan. Tanah yang terbuka dan bervegetasi berfungsi sebagai penyerap air alami; ketika halaman diplester seluruhnya dan ruang terbuka hijau berubah menjadi bangunan, air hujan kehilangan tempat meresap dan langsung menjadi limpasan permukaan. Menanam pohon, mempertahankan area resapan di pekarangan, tidak mendirikan bangunan di sempadan sungai, dan menjaga vegetasi di lereng adalah bentuk mitigasi yang hasilnya baru terasa bertahun-tahun kemudian — dan justru karena itu sering diabaikan.
Kesiapsiagaan keluarga. Akhirnya, ada lapisan kesiapan yang bersifat langsung. Setiap keluarga sebaiknya mengetahui jalur evakuasi dari rumah dan dari lingkungannya, menyepakati titik kumpul jika anggota keluarga terpisah, menyimpan nomor kontak darurat di tempat yang mudah dijangkau, dan menyiapkan tas siaga berisi dokumen penting, obat-obatan, air minum, senter, dan pakaian secukupnya. Yang sering terlupa adalah bahwa kesiapan ini perlu dilatih dan diperbarui: dokumen berubah, obat kedaluwarsa, anak-anak tumbuh dan perlu memahami perannya sendiri. Perlengkapan darurat yang disiapkan sekali lalu dilupakan di sudut lemari hanya memberi rasa aman yang semu.
 

Mitigasi dan SDGs
Kebiasaan-kebiasaan di atas tampak terlalu sederhana untuk dihubungkan dengan agenda global. Namun justru di titik itulah SDGs menemukan bentuk konkretnya.
SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Bencana adalah salah satu penyebab kematian dan cedera yang paling dapat dicegah. Lebih dari itu, lingkungan yang bersih dan bebas genangan memutus rantai penyakit berbasis lingkungan seperti demam berdarah, diare, dan leptospirosis yang justru melonjak setelah banjir. Menjaga kebersihan rumah dan lingkungan adalah tindakan kesehatan sekaligus tindakan mitigasi.
SDG 6 Air Bersih dan Sanitasi Layak. Kualitas air baku ditentukan oleh perlakuan masyarakat terhadap sungai dan tanah di sekitarnya. Rumah tangga yang mengelola limbahnya dengan baik dan menghemat penggunaan air ikut menjaga ketersediaan air bersih pada musim kemarau  periode ketika kerentanan masyarakat justru paling tinggi.
SDG 11  Kota dan Permukiman Berkelanjutan. Inilah tujuan yang paling eksplisit menyebut pengurangan risiko bencana, termasuk target menurunkan jumlah korban dan kerugian ekonomi akibat bencana serta meningkatkan kapasitas perencanaan permukiman yang inklusif. Warga yang menjaga drainase, mematuhi tata ruang, dan terlibat dalam perencanaan lingkungan sedang mengerjakan SDG 11 dari halaman rumahnya sendiri.
SDG 12  Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab. Volume sampah yang harus ditampung sebuah kota adalah cerminan pola konsumsi warganya. Mengurangi, menggunakan kembali, dan mendaur ulang bukan sekadar gaya hidup ramah lingkungan, melainkan cara mengurangi beban infrastruktur yang jika jebol akan berujung pada bencana dari longsor timbunan sampah hingga banjir akibat saluran tersumbat.
SDG 13  Penanganan Perubahan Iklim. Perubahan iklim memperkuat hampir seluruh bahaya hidrometeorologis: hujan menjadi lebih ekstrem, kemarau lebih panjang, permukaan laut naik. Penghematan energi, pengurangan emisi rumah tangga, dan penghijauan adalah kontribusi mitigasi iklim, sementara pengenalan risiko dan kesiapsiagaan adalah bentuk adaptasinya. Keduanya diperlukan, dan keduanya bisa dimulai dari rumah.
Dari Individu Menuju Masyarakat Tangguh
Kebiasaan tidak berhenti pada pelakunya. Ia menular melalui lingkaran-lingkaran sosial yang saling bertumpuk. Seorang individu yang terbiasa memilah sampah membawa kebiasaan itu ke dalam rumah tangganya; keluarga yang terbiasa membicarakan risiko dan jalur evakuasi menumbuhkan anak-anak yang menganggap kesiapsiagaan sebagai hal wajar, bukan hal luar biasa. Anak-anak inilah yang kemudian membawa kebiasaan tersebut ke sekolah.
Sekolah menempati posisi strategis dalam rantai ini, terutama sekolah dasar. Di jenjang itulah kebiasaan terbentuk paling lentur dan paling bertahan lama. Program Satuan Pendidikan Aman Bencana menegaskan tiga pilar yang saling menopang: fasilitas belajar yang aman, manajemen bencana di satuan pendidikan, dan pendidikan pencegahan serta pengurangan risiko bencana. Pilar ketiga tidak selalu menuntut mata pelajaran baru; ia dapat diintegrasikan ke dalam pembelajaran yang sudah ada — mengenali peta risiko lingkungan sekolah dalam pembelajaran IPS, memahami siklus air dan cuaca dalam IPA, atau menulis rencana evakuasi keluarga dalam pelajaran bahasa. Pendekatan seperti ini menjadikan kebencanaan bukan tema tempelan, melainkan cara memahami tempat tinggal sendiri.
Dari sekolah, kebiasaan bergerak kembali ke masyarakat. Anak yang mengingatkan orang tuanya untuk tidak membuang sampah ke sungai adalah agen perubahan yang sering lebih efektif daripada spanduk imbauan. Ketika cukup banyak keluarga memiliki kebiasaan yang sama, terbentuklah apa yang disebut budaya kesiapsiagaan: kondisi ketika tindakan mengurangi risiko tidak lagi bergantung pada instruksi pemerintah atau kehadiran ancaman, melainkan sudah menjadi norma bersama. Di titik itu, masyarakat memiliki kapasitas yang nyata bukan hanya daftar prosedur di atas kertas.
Yang menjadi fondasi seluruh proses ini adalah literasi risiko: kemampuan membaca lingkungan sendiri, memahami informasi peringatan dini, menimbang kemungkinan dan dampak, lalu mengambil keputusan yang masuk akal. Literasi ini tidak diperoleh dari satu kali sosialisasi, melainkan dari pembiasaan yang panjang dan konsisten  persis seperti literasi membaca dan berhitung.
 

Penutup
Mitigasi bencana kerap gagal karena dibayangkan sebagai peristiwa, bukan sebagai proses. Ia dianggap selesai ketika simulasi usai digelar, ketika tas siaga sudah terisi, ketika seminar sudah ditutup. Padahal ketangguhan tidak pernah dibangun dalam satu kegiatan; ia terbentuk melalui pengulangan tindakan-tindakan kecil yang tampak tidak heroik: memungut sampah di depan rumah, menutup keran, menanam pohon, mengecek retakan di dinding, memastikan anak tahu ke mana harus berlari.
Justru di sanalah kekuatannya. Program besar bergantung pada anggaran, jadwal, dan kehadiran pihak lain; kebiasaan bergantung pada diri sendiri dan tersedia setiap hari. Ketika kebiasaan itu diulang oleh cukup banyak orang, ia berubah menjadi kapasitas kolektif — dan kapasitas kolektif itulah yang membedakan masyarakat yang hancur oleh bencana dari masyarakat yang mampu bangkit kembali.
Pembangunan berkelanjutan pada akhirnya menuntut hal yang sama: konsistensi lintas waktu. SDGs tidak akan tercapai oleh proyek yang megah tetapi terputus, sebagaimana ketangguhan tidak akan lahir dari kesiapsiagaan yang hanya muncul saat ancaman terlihat. Keduanya bertemu pada satu titik yang sederhana namun menentukan: apa yang kita lakukan hari ini, dan apakah kita bersedia melakukannya lagi besok.