Membuka Cakrawala Digital Di Pesisir Pangandaran
Kembali ke Berita

Membuka Cakrawala Digital Di Pesisir Pangandaran

Detail Berita

Penyunting
ADMIN
Waktu Posting
27 Jul 2026 08:03
Kategori
Kampus
Membuka Cakrawala Digital Di Pesisir Pangandaran

SUMEDANG, 21 Juli 2026. Desir angin melintasi hamparan sawah yang baru dipanen, menyapu halaman SD Negeri 5 Wonoharjo, Kecamatan Pangandaran, Kabupaten Pangandaran. Pohon-pohon palem dan ketapang yang menaungi sekolah seluas hampir satu hektare itu melambai perlahan. Seperti menyambut kedatangan para tamu dari PGSD Sumedang, Universitas Pendidikan Indonesia. Pagi itu, di halaman sekolah yang luas, dua siswi sekolah dasar berdiri bersiap, di antara barisan para guru. Mengenakan busana tari, mereka menunggu rombongan tamu dari Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Kampus Sumedang, Universitas Pendidikan Indonesia. Begitu rombongan masuk, sudah berada di halaman sekolah, musik tradisional Sunda mulai terdengar. Kedua anak itu menarikan tari penyambutan dengan lincahnya. Seusai menari, mereka melangkah perlahan menuju tamu utama, Bersama para kepala sekolah dan Sekretaris Kadispora Kabupaten Pangandaran. Sebuah syal disematkan kepada Wakil Direktur UPI Kampus Sumedang dan Ketua Program Studi PGSD Kampus Sumedang. Mereka menyambut kedatangan para tamu dari PGSD Sumedang dengan senyum lebar. 

Prosesi singkat itu menjadi pembuka kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertema "Akselerasi Digitalisasi SD: Inovasi AI, Coding, dan Rapor Pendidikan Menuju Smart School." Program ini merupakan inisiatif Program Studi PGSD Kampus Sumedang, Univeristas Pendidikan Indonesia yang didukung Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) UPI untuk mempercepat transformasi digital pendidikan dasar. Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 20–22 Juli 2026, dipusatkan di SD Negeri 5 Wonoharjo. Pesertanya bukan hanya guru sekolah itu, melainkan 58 guru dari empat sekolah di Gugus Wonoharjo: SD Negeri 1, SD Negeri 3, SD Negeri 4, dan SD Negeri 5 Wonoharjo. Tim pelaksana dipimpin Dr. Aah Ahmad Syahid, M.Pd.,dan Dr. Rana Gustian Nugraha, M.Pd., Mereka membawa satu tujuan yang cukup jelas, yaitu memperkuat kompetensi digital guru sekolah dasar agar mampu merancang pembelajaran berbasis AI, memahami dasar coding untuk menumbuhkan computational thinking, memanfaatkan data Rapor Pendidikan, serta membangun budaya belajar kolaboratif di sekolah. 

Hari pertama dimulai secara daring melalui pengantar program dan pretest. Hari berikutnya, ruang pertemuan sekolah berubah menjadi ruang belajar bersama. Satu demi satu narasumber bergantian mengisi sesi. Dr. Aah Ahmad Syahid,M.Pd membuka materi dengan arah transformasi sekolah dasar menuju ekosistem digital. Dr. Diah Gusrayani, M.Pd memperkenalkan berbagai platform AI-EdTech sekaligus praktik ice breaking digital. Dr. Nurdinah Hanifah,M.Pd mengajak peserta mengenal pembelajaran HOTS berbasis coding dan pendekatan deep learning untuk mengembangkan kemampuan berpikir komputasional siswa sekolah dasar. Dr. Enjang Yusup Ali,M.Kom memperlihatkan bagaimana aplikasi Android dapat mendukung Gerakan Sekolah Sehat. Ditutup oleh Dr. Kusman Rukmana,M.Pd mengajak guru membaca Rapor Pendidikan sebagai instrumen perbaikan mutu sekolah. 

Seluruh narasumber menekankan bahwa pembelajaran masa kini harus mampu menghadirkan pengalaman belajar yang bermakna melalui pemanfaatan teknologi digital secara bijaksana. Digitalisasi dipandang bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana untuk memperkuat kualitas proses pembelajaran, meningkatkan keterlibatan peserta didik, dan mendorong guru mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Program ini memang tidak berhenti pada seminar. 

Tujuan PkM ini menargetkan peningkatan kompetensi digital guru yang diukur melalui pretest dan posttest, lahirnya produk media pembelajaran digital karya peserta, publikasi ilmiah dan media massa, pendaftaran hak kekayaan intelektual, serta dokumentasi pembelajaran yang dapat disebarluaskan kepada masyarakat. Ketua pelaksana kegiatan, Dr. Aah Ahmad Syahid, M.Pd., mengatakan, transformasi digital tidak identik dengan mengganti papan tulis menjadi layar proyektor. "Yang kami bangun bukan sekadar kemampuan menggunakan aplikasi. Yang jauh lebih penting adalah perubahan cara berpikir guru. Artificial Intelligence, coding, dan Rapor Pendidikan harus menjadi alat untuk memperkuat kualitas pembelajaran, bukan sekadar mengikuti tren teknologi," katanya. Bagi banyak peserta, pengalaman itu menjadi sesuatu yang baru. Salah seorang peserta, Sugianto, S.Pd., guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) SD Negeri 5 Wonoharjo, mengaku pelatihan tersebut memberi pengalaman yang langsung dapat diterapkan di kelas. "Kami memperoleh banyak pengetahuan sekaligus pengalaman praktik yang dapat langsung diterapkan di kelas. Kegiatan seperti ini sangat kami harapkan dapat terus berlanjut," ujarnya. 

Program ini terlaksana melalui kolaborasi Program Studi PGSD UPI Kampus Sumedang dengan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Pangandaran. Acara secara resmi dibuka oleh Darso, S.Pd., M.Pd., Sekretaris Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Pangandaran, didampingi Annisa Suliastini, M.Pd., Kepala Bidang Pembinaan Sekolah Dasar Disdikpora Kabupaten Pangandaran. 

Dalam sambutannya, Darso menegaskan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dasar. "Kami menyambut baik kerja sama ini. Transformasi pendidikan tidak mungkin berjalan tanpa peningkatan kapasitas guru. Kehadiran PGSD UPI Sumedang menjadi energi baru bagi sekolah-sekolah kami dalam menyongsong era teknologi informasi. Kami berharap kolaborasi seperti ini dapat terus berlanjut untuk bersama-sama meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Pangandaran Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan manfaat nyata bagi guru untuk menghadapi tantangan pembelajaran di era digital," ujarnya. Apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan juga disampaikan oleh Dr. Maulana, M.Pd., Wakil Direktur UPI Kampus Sumedang. “Pengabdian kepada masyarakat merupakan bentuk nyata implementasi tridarma perguruan tinggi yang harus memberikan dampak langsung bagi peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Perguruan tinggi harus memberi energi positif bagi para guru di lapangan,” ujarnya. 

Senada dengan hal tersebut, Dr. Ani Nur Aeni, M.Pd., Ketua Program Studi PGSD UPI Kampus Sumedang, menyampaikan bahwa kegiatan pengabdian tidak hanya sekedar kewajiban dosen, namun harus menjadi kegiatan kolaborasi untuk mengantarkan pada kualitas Pendidikan di sekolah dasar. “Saya berharap pengabdian dan pendampingan ini menjadi awal terbentuknya jejaring kerja sama yang berkelanjutan antara perguruan tinggi, sekolah, dan pemerintah daerah dalam pengembangan pendidikan dasar berbasis digital, sekaligus menjadi kontribusi nyata terhadap pencapaian SDGs 4, Pendidikan Berkualitas,” ujarnya.