Sumbing — Bulan Agustus bukan sekadar penanda sejarah kemerdekaan Indonesia, melainkan momentum untuk kembali menghayati makna perjuangan, persatuan, tanggung jawab, dan kecintaan terhadap tanah air. Semangat tersebut menemukan aktualisasinya dalam perjalanan menuju Gunung Sumbing pada 9–11 Agustus yang diikuti oleh dosen Pancasila sekaligus Pembina Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Garjamara. Perjalanan ini menjadi lebih dari sekadar aktivitas pendakian karena mempertemukan nilai-nilai Pancasila dengan pengalaman nyata di alam terbuka.
Sebagai dosen Pancasila dan Pembina Garjamara, kehadiran beliau menjadikan kegiatan ini sebagai ruang pendidikan karakter. Pancasila tidak hanya dipahami sebagai nilai yang diajarkan diruang kelas, tetapi dihidupkan melalui tindakan nyata seperti saling membantu, menjaga keselamatan, menghormati sesama, mengambil keputusan bersama, bertanggung jawab, serta menjaga kelestarian lingkungan. Dalam perjalanan menuju puncak, mahasiswa belajar bahwa pendakian tidak dapat dilakukan secara individual. Ada saat untuk menunggu rekan, berbagi perbekalan, membantu ketika menghadapi kesulitan, dan bersama-sama menentukan langkah. Dari pengalaman tersebut, persatuan menjadi sesuatu yang dialami secara langsung, bukan sekadar konsep yang dipahami.
Alam terbuka pun menjadi ruang belajar yang melengkapi pembelajaran akademik. Jika ruang kelas memberikan teori, perjalanan memberikan kesempatan untuk menguji nilai tersebut melalui pengalaman. Disiplin, kepemimpinan, ketangguhan, solidaritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan tumbuh melalui proses yang nyata. Dalam konteks ini, peran Pembina Garjamara bukan hanya memastikan perjalanan berjalan dengan baik, tetapi juga mengarahkan pengalaman tersebut menjadi bagian dari pembentukan karakter mahasiswa.
Gunung Sumbing juga menghadirkan filosofi tentang kehidupan. Tidak ada satu langkah yang dapat membawa seseorang langsung menuju puncak; setiap tahap harus dilalui, termasuk ketika medan semakin berat dan tubuh mulai lelah. Hal tersebut menjadi gambaran bahwa tujuan besar dalam kehidupan membutuhkan proses, ketekunan, dan keberanian untuk terus melangkah. Namun, puncak juga mengajarkan kerendahan hati: semakin tinggi seseorang berada, semakin ia menyadari luasnya alam dan keterbatasan dirinya sebagai manusia.
Berlangsung menjelang peringatan Hari Kemerdekaan, perjalanan 9–11 Agustus ini turut membawa makna nasionalisme yang lebih luas. Mencintai Indonesia tidak hanya diwujudkan melalui simbol-simbol kemerdekaan, tetapi juga melalui upaya menjaga alam, merawat persatuan, membangun generasi berkarakter, dan menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat. Bagi seorang dosen Pancasila dan Pembina Garjamara, perjalanan ke Gunung Sumbing pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa tinggi kaki melangkah, melainkan tentang bagaimana manusia belajar berjalan bersama, menghadapi keterbatasan, saling menjaga, dan membawa pulang nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan.
Sebab, puncak mungkin hanya dicapai untuk sesaat, tetapi nilai yang ditemukan sepanjang perjalanan dapat menjadi bekal yang dibawa jauh setelah seseorang kembali turun dari gunung








