SUBANG, 17 September 2026. Sebanyak 11 mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Kampus Sumedang melaksanakan Program Pemberdayaan Masyarakat Berkelanjutan (P2MB) Tahun 2026 di Desa Tanjungsiang, Kabupaten Subang, mulai 17 September 2026. Program tersebut diarahkan tidak sekadar menjadi kegiatan pengabdian mahasiswa, tetapi menghasilkan program yang dapat dirasakan manfaatnya dan dilanjutkan masyarakat setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Pelaksanaan P2MB mengusung tema “Kampus Berdampak ‘Sauyunan’: Penguatan Masyarakat Sehat, Aktif, Tangguh, dan Berdaya Saing Berbasis Potensi Kewilayahan.” Sebanyak 11 mahasiswa diharapkan membangun program bersama masyarakat dengan terlebih dahulu mengenali potensi, kebutuhan, dan persoalan yang ada di Desa Tanjungsiang.
Pesan tersebut disampaikan perwakilan aparat Desa Tanjungsiang Deni Sumarya saat menerima mahasiswa P2MB. Menurutnya, masyarakat harus ditempatkan sebagai mitra dalam merancang dan menjalankan program.
“Jangan datang ke Tanjungsiang hanya untuk melaksanakan program P2MB. Datanglah untuk memahami Tanjungsiang.”
Ia menegaskan, mahasiswa perlu mengenali kekuatan dan kebutuhan masyarakat sebelum menentukan kegiatan. Dengan pendekatan tersebut, P2MB diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Dosen Pembimbing Lapangan P2MB UPI Kampus Sumedang, Drs. Dadan Djuanda, M.Pd., yang menyerahkan langsung para mahasiswa, juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mengukur keberhasilan program dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan.
“Jangan sampai P2MB hanya menghasilkan foto, spanduk, sertifikat, dan laporan yang tebal, tetapi setelah mahasiswa pulang tidak ada yang tersisa.”
Menurut Dadan, ukuran keberhasilan P2MB justru terletak pada perubahan yang terjadi setelah mahasiswa hadir dan keberlanjutan program ketika mahasiswa telah meninggalkan desa.
Karena itu, mahasiswa didorong memilih program yang sederhana, nyata, sesuai kebutuhan masyarakat, melibatkan warga, dan memungkinkan untuk diteruskan.
“Lebih baik sedikit program tetapi hidup dan berkelanjutan daripada banyak program tetapi selesai bersamaan dengan kepulangan mahasiswa,” ujarnya.
Mengembangkan Potensi Tanjungsiang
Desa Tanjungsiang yang berada di kawasan pusat aktivitas Kecamatan Tanjungsiang dinilai memiliki berbagai potensi yang dapat dikembangkan. Pemberdayaan tidak hanya diarahkan pada sektor pertanian, tetapi juga kesehatan, aktivitas masyarakat, literasi digital, ekonomi, serta penguatan identitas sosial dan budaya desa.
Sejumlah gagasan yang didorong melalui P2MB antara lain Tanjungsiang Sehat, Tanjungsiang Aktif, Tanjungsiang Melek Digital, UMKM Naik Kelas, dan Tanjungsiang Bercerita.
Pada bidang digital, mahasiswa diharapkan membantu masyarakat dan pelaku UMKM memanfaatkan teknologi untuk memperluas promosi dan pemasaran produk. Salah satu potensi lokal yang dapat dikembangkan adalah Golok Barlen, kerajinan golok khas Tanjungsiang yang telah dikenal hingga mancanegara. Bahkan kerajinan golok ini ada yang sudah masuk rekor Muri golok terpanjang di dunia, yang sekarang tersimpan di musium Kabupaten Subang.
Dari Potensi Lokal Menjadi Cerita Digital
Selain kesehatan dan ekonomi, mahasiswa didorong menggali serta mendokumentasikan kekayaan sosial dan budaya masyarakat Tanjungsiang.
Melalui program “Tanjungsiang Bercerita”, potensi desa dapat dikemas dalam berbagai bentuk, seperti foto, video, podcast, cerita digital, maupun dokumentasi potensi dan kehidupan masyarakat.
Dokumentasi tersebut diharapkan menjadi salah satu cara menjaga pengetahuan lokal agar tidak hilang sekaligus memperkenalkan potensi Tanjungsiang kepada generasi muda.
“Jangan sampai anak-anak Tanjungsiang lebih mengenal dunia dari internet daripada mengenal cerita dari desanya sendiri,” ujarnya Dadan lagi..
Pendekatan tersebut juga membuka ruang bagi mahasiswa PGSD untuk menghubungkan pengalaman akademik dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya dalam bidang pendidikan, literasi, teknologi, dan pelestarian budaya.
P2MB dan Pembangunan Berkelanjutan
Secara substansi, sejumlah fokus P2MB tersebut memiliki keterkaitan dengan agenda pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Program kesehatan berkaitan dengan SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera; penguatan UMKM dan pemanfaatan teknologi untuk pemasaran memiliki keterkaitan dengan SDG 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi; penguatan potensi serta identitas lokal dapat mendukung pembangunan komunitas yang berkelanjutan sebagaimana semangat SDG 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan; sedangkan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, masyarakat, dan pelaku ekonomi lokal sejalan dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.
Keterkaitan tersebut menempatkan P2MB bukan semata sebagai kegiatan mahasiswa di tengah masyarakat, melainkan sebagai ruang pembelajaran sekaligus kolaborasi untuk mengembangkan potensi desa secara berkelanjutan.
Pesan tersebut menegaskan bahwa P2MB tidak hanya menjadi tempat bagi mahasiswa untuk memberikan kontribusi kepada masyarakat, tetapi juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk memahami kehidupan sosial secara langsung.








