
Zaman sekarang, jadi guru SD tidak cukup menguasai metode mengajar dan materi saja. Anak-anak generasi Alfa tumbuh dengan gawai di tangan. Guru SD tak boleh hanya mengandalkan papan tulis dan kapur, melainkan juga harus menggunakan proyektor, koneksi internet, akal imitasi (artificial intelligence, AI), gawai, laptop. Mahasiswa harus cepat mengikuti perkembangan zaman. Tentu saja semua ini didukung dengan infrastruktur PGSD yang lengkap seperti kelas dengan koneksi internet (antena WiFi dan kabel jaringan), pengatur suhu ruangan (AC, air conditioner), proyektor, atau televisi papan interaktif digital (IFP, Interactive Flat Panel). Pertama, mahasiswa calon guru harus mampu membuat media pembelajaran yang menarik, termasuk media digital atau elektronik. Dulu mungkin guru membuat alat peraga dari kardus, karton, tripleks, sekarang zaman digital. Calon guru harus mengenal sejumlah aplikasi seperti Canva, Google Drive (Dropbox, Microsoft OneDrive), Moodle, e-commerce, Open Journal Systems (OJS), Google Classroom, Google Sites, Google Apps Script, Google Colab, blog, Github, Blender 3D, Sweet Home 3D. Aplikasi Canva merupakan aplikasi desain grafis yang mudah dipakai untuk membuat video pembelajaran, infografis warna-warni, buku cerita bergambar, presentasi yang menarik. Selain itu, mahasiswa juga belajar membuat dan menggunakan kuis permainan interaktif dengan Quizizz atau Wordwall yang membuat pelajaran terasa seperti main gim. Siswa-siswa pun berpotensi mengembangkan kuis dan gim yang bermanfaat untuk pelajaran. Dengan bermain, siswa menjadi semangat dalam belajar. Guru harus pemilihan media yang cocok untuk materi tertentu. Kedua, mahasiswa tertinggal dalam memaksimalkan akal imitasi (AI, artificial intelligence, kecerdasan buatan) misalnya Deepseek, Meta, Gemini, Copilot, Grok, Thaura, Chat GPT untuk membantu pemahaman pelajaran, pembuatan media, atau modul ajar. Jenis AI lainya misalnya Hugging Face (model AI), Scopus AI (referens), Perplexity (referens), Dreamina Capcut (gambar, video), Seadance (gambar, video), Riffusion AI (musik), Suno (musik), Google Flow Music (musik), Superstudio (video). AI bisa membantu guru membuat soal yang berbeda-beda sesuai kemampuan setiap siswa. Jadi siswa yang pintar tidak cepat bosan, siswa yang butuh waktu ekstra juga akan terbantu. Penggunaan AI berpotensi meningkatkan kompetensi siswa. Namun guru juga harus ingat, AI cuma alat bantu. Sentuhan manusia, empati, dan kreativitas guru tetap tidak tergantikan. Jangan sampai guru mengandalkan sepenuhnya AI yang berpotensi halusinasi. Ketiga, selain menggunakan AI, mahasiswa juga harus pintar mencari informasi di internet dan menggunakan internet. Kepintaran digital sudah menjadi kebutuhan dasar, seperti makan, PDAM, listrik. migas, pakaian, pendidikan, kesehatan, dan perumahan. Mahasiswa harus tahu cara mencari bahan ajar yang bagus dan terpercaya di internet. Mahasiswa harus kreatif dan tahu cara memanfaatkan potensi internet misalnya untuk meningkatkan pendapatan unit (Income Generating Unit, IGU) dan mengembangkan kendaraan motor listrik hidrogen. Keempat, mahasiswa tetap mengasah potensi kemanusiaannya karena teknologi tidak menghilangkan peran penting guru sebagai manusia. Manusia bisa mempertanyakan aturan, tata cara kehidupan, asal dan tujuan hidup. Dengan begitu mahasiswa harus mengenal Tuhannya. Manusia yang normal marah jika diganggu, sedih jika kehilangan sesuatu, senang jika mendapat rezeki, kecewa pada pengkhianatan, dan sifat kemannusiaan lain. Mahasiswa calon guru juga harus mempunyai hati yang hangat, bisa berkomunikasi sama orang tua siswa, dan bisa mengelola kelas dengan penuh empati. Siswa SD butuh sosok panutan, bukan cuma robot pintar. Kemampuan kolaborasi dengan teman sejawat juga penting karena di sekolah, acap kali kerja tim di antara guru dan siswa itu diperlukan. Seseorang akan menjadi manusia sosial (homo socius) yang benar. Kelima, mahasiswa PGSD pun dibekali untuk mengembangkan peladen rumah (home server) yang berpotensi dikembangkan di setiap sekolah. Peladen rumah itu nanti bisa diisi berkas (file) yang dibutuhkan guru dan siswa dalam pembelajaran seperti video, gambar, teks, animasi, model 3D webxr, Godot Game Engine, model akal imitasi (AI, artificial intelligence, kecerdasan buatan), suara spektrogram, dan sebagainya. Pembelajaran peladen rumah ini juga mendorong internet murah, cepat, dan pembuatan aplikasi lokal sehingga tidak sepenuhnya bergantung pada aplikasi luar. Mahasiswa PGSD harus menyongsong masa depan dengan berbagai talenta. Bukan cuma pintar mengajar, tapi juga pintar memakai teknologi, kreatif membuat media, terbuka pada potensi penggunaan AI, dan tetap manusiawi. Semua kemampuan ini harus dipadukan dengan baik. Yang terpenting, guru harus terus belajar sepanjang hayat. Karena teknologi bergerak cepat, dan anak-anak kita juga berkembang cepat. Mahasiswa PGSD, siap jadi guru SD masa depan.







