Oleh: Diah Gusrayani
Setiap manusia ingin bahagia. Namun, kebahagiaan ternyata hadir dalam bentuk yang berbeda-beda. Ada kebahagiaan karena kita merasa senang, ada kebahagiaan karena berhasil menang, dan ada pula kebahagiaan yang lahir dari ketenangan. Ketiganya dapat kita rasakan, tetapi tidak semuanya memiliki kedalaman dan daya tahan yang sama.
1. Senang: Kebahagiaan yang Datang Sekejap
Kesenangan atau pleasure muncul ketika kita melakukan atau mendapatkan sesuatu yang kita sukai. Membeli barang baru, membuka paket yang sudah lama ditunggu, menikmati makanan favorit, memperoleh banyak like di media sosial, atau menonton Netflix, dapat membuat kita merasa senang. Pada saat seperti itu, otak melepaskan zat kimia seperti dopamin dan endorfin yang berkaitan dengan rasa nyaman dan penghargaan. Namun, perasaan tersebut biasanya tidak berlangsung lama. Barang yang baru dibeli perlahan menjadi biasa. Makanan yang dinikmati segera habis. Tayangan yang menarik pun selesai. Setelah itu, otak kembali mencari sumber kesenangan berikutnya.
Inilah salah satu alasan scrolling media sosial dapat berlangsung tanpa terasa. Setiap video, gambar, atau informasi baru menawarkan kesenangan singkat. Ketika kesenangan itu berakhir, jari kita kembali bergerak untuk mencari rangsangan berikutnya. Jika tidak disadari dan dikendalikan, pola ini dapat berkembang menjadi kebiasaan yang membuat kita sulit berhenti.
Kesenangan tidaklah salah. Manusia memang membutuhkan hiburan dan pengalaman yang menyenangkan. Namun, kita perlu memahami bahwa rasa senang bersifat sementara. Jika kebahagiaan hanya disandarkan pada kesenangan, kita akan mudah gelisah ketika sumber kesenangan itu menghilang.
2. Menang: Kebahagiaan karena Pencapaian
Bentuk kebahagiaan berikutnya adalah kemenangan. Manusia secara alamiah memiliki dorongan untuk mempertahankan diri, berkembang, diakui, dan mencapai keberhasilan. Dalam khazanah Islam, dorongan ini dapat dikaitkan dengan gharizah al-baqa’, yaitu naluri mempertahankan eksistensi diri.Kita bahagia ketika lulus kuliah, memperoleh beasiswa, diterima bekerja, memenangkan perlombaan, menyelesaikan penelitian, atau mendapatkan promosi. Sebaliknya, kita dapat merasa kecewa, sedih, bahkan marah ketika gagal atau kalah. Kebahagiaan karena kemenangan biasanya bertahan lebih lama daripada kesenangan karena proses untuk mencapainya pun lebih panjang. Gelar sarjana, misalnya, diperoleh setelah menjalani perkuliahan selama bertahun-tahun. Ketika wisuda tiba, kebahagiaannya terasa kuat karena di dalamnya terdapat perjuangan, pengorbanan, dan ketekunan.
Namun, setelah satu kemenangan diraih, manusia biasanya mulai mencari kemenangan yang lain. Setelah lulus, kita ingin mendapatkan pekerjaan. Setelah bekerja, kita ingin memperoleh jabatan. Setelah mencapai satu target, kita menetapkan target berikutnya.
Keinginan untuk menang dapat menjadi tenaga yang mendorong manusia maju. Akan tetapi, kemenangan pun belum tentu menghadirkan kedamaian. Seseorang dapat terlihat sukses, tetapi hidup dalam kecemasan. Ia mungkin takut kehilangan kedudukan, takut dikalahkan orang lain, atau khawatir bahwa cara-cara tidak benar yang ditempuhnya akan diketahui. Karena itu, keberhasilan yang tampak dari luar belum tentu sama dengan kebahagiaan yang dirasakan di dalam.
3. Tenang: Kebahagiaan yang Berakar dari Dalam
Ketenangan atau peacefulness merupakan bentuk kebahagiaan yang lebih dalam. Ketenangan membuat seseorang mampu hadir dan mensyukuri hidup pada saat ini—here and now—tanpa terus-menerus mengejar rangsangan baru atau membandingkan dirinya dengan orang lain. Orang yang tenang bukanlah orang yang hidupnya tidak mempunyai masalah. Ia tetap dapat mengalami kegagalan, penolakan, kehilangan, dan kekecewaan. Namun, ia tidak membiarkan setiap peristiwa merampas kendali atas pikiran dan tindakannya. Ia memahami bahwa tidak semua keadaan dapat dikendalikan, tetapi sikapnya dalam menghadapi keadaan itu tetap berada dalam pilihannya.
Ketenangan juga lahir ketika seseorang menyadari bahwa ia berjalan di atas nilai dan aturan yang benar. Ia tidak harus terus bersembunyi, berpura-pura, atau merasa takut kesalahannya akan terbongkar. Hati nuraninya tidak berkonflik dengan tindakannya. Ada keselarasan antara apa yang diyakini, dikatakan, dan dilakukan. Di sinilah ketenangan menjadi kebahagiaan yang lebih tahan lama. Rasa senang dapat selesai ketika kesenangannya berakhir. Rasa menang dapat memudar ketika muncul target baru. Namun, ketenangan dapat tetap hadir di tengah perubahan karena sumbernya tidak sepenuhnya bergantung pada keadaan di luar diri.
Tentu saja, manusia dapat merasakan senang, menang, dan tenang dalam satu rangkaian kehidupan. Seseorang merasa senang karena dapat bersedekah dan membantu orang lain. Pada kesempatan lain, ia dinyatakan lolos memperoleh beasiswa setelah melalui perjuangan yang panjang. Di tengah semua itu, ia tetap tenang karena menjalani kehidupannya berdasarkan nilai yang diyakininya benar. Ia memperoleh kebahagiaan secara lengkap: senang karena menikmati kebaikan, menang karena mencapai tujuan, dan tenang karena tidak kehilangan arah hidup. Namun, jika kita harus menentukan fondasi, ketenanganlah yang seharusnya menjadi dasar. Kesenangan dan kemenangan akan terasa lebih bermakna jika keduanya tidak mengorbankan ketenangan.
Ketenangan sebagai Identitas Calon Guru Sekolah Dasar
Bagi mahasiswa PGSD Kampus Sumedang, pembahasan ini bukan hanya tentang cara memperoleh kebahagiaan pribadi. Pembahasan ini berkaitan erat dengan identitas dan tanggung jawab sebagai calon guru sekolah dasar. Selama ini, mengajar sering dipahami sebagai kegiatan menyampaikan pengetahuan. Guru menjelaskan materi, memberikan contoh, membagikan tugas, kemudian menilai jawaban siswa. Padahal, anak-anak tidak hanya belajar dari materi yang disampaikan guru. Mereka juga belajar dari cara guru hadir di hadapan mereka.
Anak memperhatikan bagaimana guru bereaksi ketika kelas gaduh, ketika jawaban siswa salah, ketika rencana pembelajaran tidak berjalan lancar, atau ketika guru menghadapi tekanan. Mereka merekam nada suara, ekspresi wajah, pilihan kata, dan cara guru memperlakukan orang lain. Karena itu, guru sesungguhnya tidak hanya mengajarkan isi pelajaran. Guru juga memperlihatkan seperti apa seorang manusia menghadapi kehidupan.
Guru yang tenang menunjukkan bahwa masalah tidak selalu harus dijawab dengan kemarahan. Kesalahan tidak selalu harus dibalas dengan penghinaan. Kegaduhan tidak selalu harus diatasi dengan bentakan. Perbedaan kemampuan tidak layak dijadikan alasan untuk mempermalukan anak. Ketenangan guru bukan berarti lemah, pasif, atau membiarkan pelanggaran terjadi. Guru yang tenang tetap dapat bersikap tegas. Bedanya, ketegasannya tidak lahir dari ledakan emosi, tetapi dari kejernihan tujuan. Ia mengoreksi tanpa merendahkan, memberi batas tanpa mengancam, dan mendisiplinkan tanpa melukai harga diri anak.
Seorang guru mungkin dapat menguasai banyak metode pembelajaran, tetapi anak akan kesulitan merasa aman jika gurunya mudah meledak. Guru mungkin mampu menjelaskan materi dengan sangat baik, tetapi pesan pendidikannya kehilangan makna jika perilakunya bertentangan dengan nilai yang diajarkan. Bagaimana mungkin guru mengajarkan kesantunan dengan suara yang merendahkan? Bagaimana mungkin guru meminta anak mengendalikan emosi jika dirinya sendiri mudah kehilangan kendali? Bagaimana mungkin guru menanamkan keberanian bertanya jika setiap kesalahan disambut dengan wajah tidak sabar? Anak-anak membutuhkan ilmu, tetapi mereka juga membutuhkan contoh manusia dewasa yang sehat secara mental dan emosional.
Mahasiswa PGSD perlu mulai melihat bahwa persiapan menjadi guru bukan hanya perkara menguasai materi, menyusun modul ajar, membuat media, atau menentukan bentuk asesmen. Menjadi guru juga merupakan proses menata diri. Sebelum mengajarkan ketenangan kepada anak, calon guru perlu belajar mengenali emosinya sendiri. Sebelum meminta siswa bersabar, ia perlu belajar merespons tekanan dengan lebih sadar. Sebelum mengajarkan empati, ia perlu membiasakan diri mendengarkan orang lain tanpa tergesa-gesa menghakimi. Guru mengajar bukan hanya melalui apa yang dikatakannya, tetapi juga melalui keadaan dirinya. Ketika guru memasuki kelas dengan hati yang tertata, anak-anak merasakan keamanan. Ketika guru berbicara dengan tenang, anak belajar bahwa komunikasi tidak membutuhkan bentakan. Ketika guru mengakui kesalahan dan meminta maaf, anak belajar tentang kerendahan hati. Ketika guru tidak panik menghadapi masalah, anak melihat contoh nyata tentang kematangan.
Dalam pengertian ini, ketenangan seorang guru merupakan bagian dari pembelajaran. Bahkan sebelum materi dimulai, cara guru hadir telah menjadi pelajaran pertama bagi anak-anak.
Menyederhanakan Standar Kebahagiaan
Salah satu jalan menuju ketenangan adalah menyederhanakan standar kebahagiaan. Kita tidak harus selalu memiliki sesuatu yang baru, mengalahkan orang lain, atau mencapai prestasi besar untuk merasa bahwa hidup ini berharga. Rasulullah saw. menggambarkan kebahagiaan seorang hamba melalui hal-hal yang sangat mendasar:
“Barang siapa di antara kalian bangun pada pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seolah-olah dunia telah dikumpulkan untuknya.”
(HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
Hadis tersebut mengingatkan kita bahwa kesehatan, rasa aman, dan kecukupan makanan pada hari ini merupakan nikmat yang sangat besar. Ketika kita bangun dalam keadaan sehat, berada di lingkungan yang aman, memiliki makanan, mempunyai kesempatan belajar, dan masih dikelilingi orang-orang yang peduli, sesungguhnya ada begitu banyak alasan untuk bersyukur.
Standar kebahagiaan yang sederhana bukan berarti kita berhenti bermimpi atau kehilangan semangat berprestasi. Kita tetap boleh mengejar kemenangan. Kita tetap boleh menikmati kesenangan. Namun, kita tidak menyerahkan ketenteraman hidup kepada keduanya. Kita belajar berkata, “Saya ingin berhasil, tetapi saya tidak harus menyiksa diri untuk merasa berharga. Saya ingin mencapai tujuan, tetapi saya tidak perlu menjatuhkan orang lain. Saya menikmati kesenangan, tetapi saya tidak akan menjadikannya sebagai satu-satunya sumber kebahagiaan.”
Menjadi Guru yang Menenangkan
Anak sekolah dasar mungkin akan melupakan sebagian materi yang pernah diajarkan. Mereka mungkin tidak mengingat setiap rumus, definisi, atau halaman buku yang pernah dibaca. Namun, mereka dapat mengingat dalam waktu yang sangat lama bagaimana seorang guru membuat mereka merasa. Mereka akan mengingat guru yang mendengarkan ketika mereka kesulitan. Mereka akan mengingat guru yang tidak menertawakan jawaban yang salah. Mereka akan mengingat guru yang tetap sabar ketika mereka lambat memahami pelajaran. Mereka pun akan mengingat guru yang membuat kelas menjadi tempat yang aman untuk belajar dan bertumbuh.
Oleh karena itu, calon guru perlu mengubah sudut pandangnya. Mengajar bukan sekadar memindahkan ilmu dari kepala guru ke kepala siswa. Mengajar adalah menghadirkan contoh tentang bagaimana manusia yang matang berpikir, berbicara, mengelola emosi, memperlakukan orang lain, dan menghadapi persoalan.
Guru bukan manusia yang tidak pernah marah, sedih, atau kecewa. Guru juga bukan manusia yang harus terus terlihat sempurna. Namun, guru perlu menunjukkan bahwa emosi dapat dikenali, diatur, dan disampaikan dengan cara yang tidak menyakiti orang lain. Pada akhirnya, anak-anak tidak hanya membutuhkan guru yang menyenangkan. Mereka juga tidak semata-mata membutuhkan guru yang memiliki banyak kemenangan dan prestasi. Anak-anak membutuhkan guru yang kehadirannya menenangkan. Sebab guru yang tenang tidak hanya membantu anak memahami pelajaran. Ia sedang memperlihatkan kondisi mental ideal seorang manusia—manusia yang mampu bersikap jernih di tengah masalah, tetap santun ketika kecewa, tegas tanpa menyakiti, serta bersyukur tanpa kehilangan cita-cita.
Guru yang hebat tidak hanya meninggalkan pengetahuan dalam pikiran anak. Ia meninggalkan rasa aman dalam hati mereka dan teladan tentang bagaimana menjalani kehidupan (DG)








